KATA PENGANTAR
Puji dan
syukur kami ucapkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
rahmat Nya saya dapat menyelesaikan tugas ujian ini.
Tidak lupa
kami ucapkan Terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah sistem sosial
budaya indonesia yang telah membimbing saya demi kelancaran pembuatan tugas
sederhana ini.
Saya
mengharapkan masukan, kritik serta saran yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan tugas ini, akhir kata saya mohon maaf karena tugas ini jauh dari
kata sempurna, di minta agar dosen pengampuh dapat memakluminya.
DAFTAR
ISI
kata
pengantar................................................................................................................... i
Daftar Isi.......................................................................................................................... ii
BAB
I
PENDAHULUAN........................................................................................................... 1
Latar
belakang.................................................................................................................. 1
Tujuan
penulisan.............................................................................................................. 2
Manfaat
penulisan...................................................................................................... ..... 2
BAB
II
Tinjauan pustaka............................................................................................................ 3
Pengertian modrenisasi.................................................................................................. 3
Pengertian modrenisasi
menurut para
ahli................................................................. ... 3
BAB
III
Pembahasan................................................................................................................ 4
Perubahan Sosial dan Kebudayaan.............................................................................. 4
Kehidupan masyarakat modren................................................................................... 5
Kebudayaan
modren................................................................................................... 6
a. Kebudayaan
teknologi modren....................................................................... 6
b. Kebudayaan
modren tiruan............................................................................ 7
c. Kebudayaan-kebudayaan
barat....................................................................... 8
Dampak modrenisasi.................................................................................................. 9
BAB
IV
Penutup....................................................................................................................... 10
Kesimpulan................................................................................................................... 10
Daftar
pustaka.............................................................................................................. 10
ii
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
seiring
dengan perkembangan zaman, kebudayaan umat manusia pun mengalami perubahan.
Menurut para pemikir post modernis dekonstruksi, dunia tak lagi berada dalam
dunia kognisi, atau dunia tidak lagi mempunyai apa yang dinamakan pusat
kebudayaan sebagai tonggak pencapaian kesempurnaan tata nilai kehidupan. Hal
ini berarti semua kebudayaan duduk sama rendah, berdiri sama tinggi, dan yang
ada hanyalah pusat-pusat kebudayaan tanpa periferi. Sebuah kebudayaan yang
sebelumnya dianggap pinggiran akan bisa sama kuat pengaruhnya terhadap kebudayaan
yang sebelumnya dianggap pusat dalam kehidupan manusia modern.
Modernisasi
berarti proses menuju masa kini atau proses menuju masyarakat yang modern.
Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju
masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di
mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan
ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Globalisasi
adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan
antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi,
perjalanan, budaya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. Dalam
kehidupan bermasyarakat, perubahan sosial tidak bisa dielakkan lagi. Menurut
Comte dan Spencer perubahan sosial bersifat linier yang senantiasa menuju ke
arah kemajuan. Namun ada pula pandangan unilinier yang cenderung mengagung-agungkan
masa lampau (Wilbert E. Moore dalam Sunarto 1993:212).
Modernisasi
merupakan proses perubahan yang terjadi secara cepat yang dialami oleh suatu
masyarakat primitif menuju masyarakat
berperadaban. Modernisasi adalah bentuk upaya Barat untuk menghadapi
tantangan kebudayaan non-Barat, hingga saat ini Barat mampu menawarkan
moderniasi dan Westernisasi kepada dunia dengan berbagai tanggapan. Para
tokoh politik dan intelektual memberikan
reaksi terhadap pengaruh Barat tersebut melalui satu atau lebih dari tiga cara
yaitu, menolak modernisasi maupun Westernisasi, menerima keduanya, atau
menerima yang pertama dan menolak yang kedua.
1.2
Tujuan Penulisan
Dalam
pembuatan makalah ini kita bisa mengetahui perubahan sosial budaya indonesia di
era moderenisasi pada saat ini seperti totalitas nilai, tata sosial, dan
tingkah laku.
1.3
Manfaat Penulisan
Manfaat
pembuatan laporan ini agar kita sebagai mahasiswa maupun masyarakat bisa
mengetahui perubahan yang terjadi pada sosial budaya indonesia pada saat ini.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.4
Pengertian modrenisasi
Arti kata modernisasi dengan kata dasar modern
berasal dari bahasa Latin modernus yang dibentuk dari kata modo dan
ernus. Modo berarti cara dan ernus
menunjuk pada adanya periode waktu
masa kini.modrenisasi berarti proses menuju masa kini atau proses menuju
masyarakat yang modern. Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari
masyarakat tradisional menuju masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi
merupakan suatu proses perubahan di mana masyarakat yang sedang memperbaharui
dirinya berusaha mendapatkan ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki
masyarakat modern
2.1
Pengertian modrenisasi menurut para ahli
Modernisasi menurut Anthony Giddens, sebuah dunia yang
tak terkendali “runaway world“
dengan
langkah, cukupan, dan kedalaman perubahannya yang jauh lebih besar dibandingkan
dengan
sistem sebelumnya. Modernitas ini tidak mengikuti satu jalan tunggal. Bukan
satu
bagian,
tetapi terdiri dari sejumlah bagian berlawanan dan saling bertentangan. Giddens
mendefenisikan
modernitas dilihat dari empat institusi mendasar, Pertama: adalah kapitalisme
yang
ditandai oleh produksi komoditi, pemilikan pribadi atas modal, tenaga kerja
tanpa property
(propertyless)
dan sistem kelas yang berasal dari ciri-ciri tersebut, Kedua: adalah
industrialisme
yang
melibatkan pengguanaan sumber daya alam dan mesin untuk memproduksi barang.
Industrialisme
tak terbatas pada tempat bekerja saja dan industrialisme mempengaruhi sederetan
lingkungan
lain seperti, transportasi, komunikasi, dan bahkan kehidupan rumah tangga, Tiga:
kemampuan mengawasi
(surveillance capacities), kemampuan untuk mengawasi aktivitas warga
negara, Empat:
kekuatan militer atau pengendalian atas alat-alat kekerasan, termasuk
industrialisasi
peralatan perang.
BAB III
PEMBAHASAN
2.2
perubahan sosial dan kebudayaan dalam masyarakat modren
Modernisasi,
menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan
nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi
universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan
nilai-nilai tradisi. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern
adalah tradisi, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau
kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke
generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma yang keberlakuannya tergantung pada ruang
(tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya
terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau
values. Sebagai contoh atau kasus, manusia mengenakkan pakaian, ini merupakan
atau termasuk kualifikasi nilai (value). Semua pihak cenderung mengakui dan
menganut nilai atau value ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan
itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan,
itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu
ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.
Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut:
a. ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi,
b. ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi,
c. ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.
Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang.
Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut:
a. ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi,
b. ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi,
c. ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.
Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang.
2.3
Kehidupan masyarakat modren
Pada kehidupan masyarakat modern,
kerja merupakan bentuk eksploitasi kepada diri, sehingga mempengaruhi pola
ibadah, makan, dan pola hubungan pribadi dengan keluarga. Sehingga dalam
kebudayaan industri dan birokrasi modern pada umumnya, dipersonalisasi menjadi
pemandangan sehari-hari. Masyarakat modern mudah stres dan muncul
penyakit-penyakit baru yang berkaitan dengan perubahan pola makanan dan pola
kerja.
Yang terjadi kemudian adalah
dehumanisasi dan alienasi atau keterasingan, karena dipacu oleh semangat kerja
yang tinggi untuk menumpuk modal. Berger menyebutnya sebagai “lonely crowd”
karena pribadi menemukan dirinya amat kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam
kebudayaan industrialisasi, terus terjadi krisis. Pertama, kosmos yang nyaman
berubah makna karena otonomisasi dan sekularisasi sehingga rasa aman lenyap.
Kedua masyarakat yang nyaman dirobek-robek karena individu mendesakkan diri
kepada pusat semesta, ketiga nilai kebersamaan goyah, keempat birokrasi dan
waktu menggantikan tokoh mistis dan waktu mitologi.
Para penganut paham pascamodern
seperti Lyotard pernah mengemukakan perlunya suatu jaminan meta-sosial, yang
dengannya hidup kita dijamin lebih merdeka, bahagia, dan sebagainya. Khotbah
agung-nya (metanarasi) ini mengutamakan perlunya new sensibility bagi
masyarakat yang terjebak dalam gejala dehumanisasi budaya modern.
Kebiasaan dari masyarakat modern
adalah mencari hal-hal mudah, sehingga penggabungan nilai-nilai lama dengan
kebudayaan birokrasi modern diarahkan untuk kenikmatan pribadi. Sehingga,
munculah praktek-peraktek kotor seperti nepotisme, korupsi, yang menyebabkan
penampilan mutu yang amat rendah.
3.1
Kebudayaan modren
Proses akulturasi di Negara-negara
berkembang tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul
radikal, dihambat oleh aliran kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi
pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the things of humanity all
humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan menerima
unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif.
Akan tetapi pada refleksi dan dalam
usaha merumuskannya kerap kali timbul reaksi, karena kategori berpikir belum
mendamaikan diri dengan suasana baru atau penataran asing. Taraf-taraf
akulturasi dengan kebudayaan Barat pada permulaan masih dapat diperbedakan,
kemudian menjadi overlapping satu kepada yang lain sampai pluralitas, taraf,
tingkat dan aliran timbul yang serentak. Kebudayaan Barat mempengaruhi
masyarakat Indonesia, lapis demi lapis, makin lama makin luas lagi dalam
(Bakker; 1984).
Apakah kebudayaan Barat modern semua
buruk dan akan mengerogoti Kebudayaan Nasional yang telah ada? Oleh karena itu,
kita perlu merumuskan definisi yang jelas tentang Kebudayaan Barat Modern.
Menurut para ahli kebudayaan modern dibedakan menjadi tiga macam yaitu:
a.
Kebudayaan Teknologi Modern
Pertama kita
harus membedakan antara Kebudayan Barat Modern dan Kebudayaan Teknologis
Modern. Kebudayaan Teknologis Modern merupakan anak Kebudayaan Barat. Akan
tetapi, meskipun Kebudayaan Teknologis Modern jelas sekali ikut menentukan
wujud Kebudayaan Barat, anak itu sudah menjadi dewasa dan sekarang memperoleh
semakin banyak masukan non-Barat, misalnya dari Jepang.
Kebudayaan
Tekonologis Modern merupakan sesuatu yang kompleks. Penyataan-penyataan
simplistik, begitu pula penilaian-penilaian hitam putih hanya akan menunjukkan
kekurangcanggihan pikiran. Kebudayaan itu kelihatan bukan hanya dalam sains dan
teknologi, melainkan dalam kedudukan dominan yang diambil oleh hasil-hasil
sains dan teknologi dalam hidup masyarakat: media komunikasi, sarana mobilitas
fisik dan angkutan, segala macam peralatan rumah tangga serta persenjataan
modern. Hampir semua produk kebutuhan hidup sehari-hari sudah melibatkan
teknologi modern dalam pembuatannya.
Kebudayaan
Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai,
netral. Bisa dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi
ideologis atau keagamaan. Seorang Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis,
Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan segala macam aliran New Age dan
para normal dapat dan mau memakainya, tanpa mengkompromikan keyakinan atau
kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan Teknologis Modern secara mencolok
bersifat instumental.
b.
Kebudayaan Modern Tiruan
Dari
kebudayaan Teknologis Modern perlu dibedakan sesuatu yang mau saya sebut
sebagai Kebudayaan Modern Tiruan. Kebudayaan Modern Tiruan itu terwujud dalam
lingkungan yang tampaknya mencerminkan kegemerlapan teknologi tinggi dan
kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan simbol-simbol lahiriah
saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan
supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).
Di lapangan
terbang internasional orang dikelilingi oleh hasil teknologi tinggi, ia bergerak
dalam dunia buatan: tangga berjalan, duty free shop dengan tawaran hal-hal yang
kelihatan mentereng dan modern, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan, suasana
non-real kabin pesawat terbang; semuanya artifisial, semuanya di seluruh dunia
sama, tak ada hubungan batin.
Kebudayaan
Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil
teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak
menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan
semakin kosong karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita,
kelakuan kita, pilihan pakaian, rasa kagum dan penilaian kita semakin
dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri. Itulah sebabnya
kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.
Anak
Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah Konsumerisme: orang ketagihan membeli,
bukan karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan
demi membelinya sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat kita
kehilangan kemampuan untuk menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh.
Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu, akan tetapi kita semakin
tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena ayam di situ
lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang
trendy, dan trendy adalah modern.
c.
Kebudayaan-Kebudayaan Barat
Kita keliru
apabila budaya blastern kita samakan dengan Kebudayaan Barat Modern. Kebudayaan
Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan
pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti
ia mengancam identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya.
Italia, Perancis, spayol, Jerman, bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan
kebudayaan khas mereka masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca
Cola, kebudayaan itu belum menjadi Kebudayaan Coca Cola.
Orang yang
sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian
belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang
Barat menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita
rasanya, apakah keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham
tanggung jawabnya (Suseno; 1992).
3.2 Dampak Modrenisasi
Perubahan
sosial budaya adalah perubahan yang terjadi pada unsur-unsur sosial dan
unsur-unsur budaya dalam kehidupan masyarakat. Salah satu contohnya adalah
keadaan bangsa Indonesia sebelum merdeka, merdeka, sampai menjadi negara berkembang
seperti pada saat ini. Perubahan yang terjadi dalam masyarakat merupakan sebuah
proses panjang. Proses perubahan sosial budaya yang terjadi di masyarakat tidak
lepas oleh adanya pengaruh modernisasi. Modernisasi dan perubahan sosial budaya
adalah dua hal yang saling berkaitan. Modernisasi dapat memengaruhi terjadinya
perubahan sosial budaya dalam masyarakat. Namun, modernisasi dapat pula terjadi
sebagai dampak dari perubahan sosial budaya.
Menurut
Selo Soemardjan dalam Soerjono Soekanto (2002) perubahan sosial adalah
perubahan-perubahan pada lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang
memengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilainilai, sikap, dan pola
perilaku di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Sementara William Ogburn
dalam Elly M. Setiadi (2011) berpendapat bahwa batasan ruang lingkup perubahan
sosial, mencakup unsur-unsur kebudayaan, baik yang bersifat materiil maupun
yang tidak bersifat materiil (imateriil) dengan menekankan pengaruh yang besar
dari unsur-unsur kebudayaan yang materiel terhadap unsur imateriil.
Perubahan
sosial merupakan perubahan sistem sosial, struktur, dan fungsi masyarakat.
Perubahan budaya adalah perubahan yang terjadi pada unsur budaya manusia, baik
berupa artefak, benda ataupun ide/gagasan. Perubahan sosial dan perubahan
budaya berbeda, tetapi keduanya memiliki keterkaitan. Perubahan budaya dapat
menyebakan perubahan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Perubahan
budaya yang terjadi banyak dipengaruhi oleh modernisasi yang kemudian dapat
menimbulkan gejala perubahan sosial.
BAB IV
PENUTUP
4.1
Kesimpulan
Modernisasi
merupakan perubahan menuju masa kini atau proses menuju masyarakat yang modern.
Modernisasi dapat pula berarti perubahan dari masyarakat tradisional menuju
masyarakat yang modern. Jadi, modernisasi merupakan suatu proses perubahan di
mana masyarakat yang sedang memperbaharui dirinya berusaha mendapatkan
ciri-ciri atau karakteristik yang dimiliki masyarakat modern. Globalisasi
adalah sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan
antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi,
perjalanan, budaya popular, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain. Dalam
kehidupan bermasyarakat, perubahan sosial tidak bisa dielakkan lagi.
.
4.2 DAFTAR PUSTAKA
Samuel
P. Huntington,Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia(Jakarta:
Qalam, 2012), hal 74.
Sunarto K. 1993. Pengantar Sosiologi. Jakarta:
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.
http://www.mikirbae.com/2015/11/perubahan-sosial-budaya-sebagai.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar